Sabtu, 27 Desember 2008

Sinopsis DO’A YANG MENGANCAM

DO’A YANG MENGANCAM



MADRIM, seorang kuli angkut di pasar induk, merasa dirinya bernasib paling malang di dunia. Ia terlibat ban

yak hutang, ditinggal istri yang cantik, dan diusir dari rumah kontrakan. Ia curhat ke KADIR, teman satu-satunya yang penjaga mushola. Kadir mengatakan semua itu terjadi karena Madri

m tak pernah berdoa, dan menyarankan agar Madrim rajin sholat.

Madrim mengikuti nasihat ini dan rajin sholat di mushola. Tapi nasibnya tak kunjung berubah.

Suatu hari s

eorang maling yang sedang dikejar-kejar penduduk masuk mushola

. Ia menyandera Kadir dan mengancam akan menusuk leher Kadir. Penduduk menyingkir. Si maling kemudian kabur. Peristiwa ini menjadi inspirasi bagi Madrim. Dalam doanya dia bukan hanya memohon tapi juga mengancam Tuhan. Ia memberi tenggat waktu tiga hari. Jika doanya tidak terkabul, ia akan berpaling ke setan.

Madrim pun pergi berkelana. Pada hari ketiga, ia sampai di sebuah padang ilalang, dimana saat itu ia sudah mulai putus asa. Petir menyambarnya, ia jatuh pingsan dan ditolong penduduk desa. Setelah mengalami koma beberapa hari, ia pun sadar. Tiba-tiba, Madrim memiliki kemampuan yang sangat jarang dimiliki orang, ia dapat mengetahui keberadaan seseorang hanya dengan melihat fotonya.

“Kemampuan melihat” ini lalu dimanfaatkan polisi untuk melacak keberadaan para buron. Puluhan buron berhasil ditangkap polisi atas “petunjuk” Madrim.

Hal ini meresahkan TANTRA, seorang “buron kerah putih” yang kaya raya. Ia pun menculik Madrim dan menahan di apartemennya dengan memberinya gaji buta dan pengawalan ketat.

Madrim pun seketika hidup berkecukupan. Ia kemudian membayar semua hutang-hutangnya. Kadir menyarankan agar Madrim mengunjungi ibunya yang sudah begitu lama ia tinggalkan di kampung. Madrim pun mendatangi ibunya dan mengajaknya pindah ke Jakarta, tapi si ibu menolak. Saat si ibu mandi, Madrim menemukan foto ibunya saat masih muda. Sekonyong-konyong Madrim melihat gambaran masa-lalu ibunya. Ia pun sangat terkejut.

Madrim yang syok kembali ke Jakarta. Ia memohon, dan lagi-lagi mengancam Tuhan agar ia dibebaskan dari “kemampuan lebih”-nya yang ternyata justru menyiksa dirinya. Doanya tak mempan. Kadir menduga, jangan-jangan “kemampuan lebih” itu bukan pemberian Tuhan, tapi pemberian setan. Maka Madrim pun “menggugat setan”, minta agar ia dikembalikan jadi manusia biasa. Madrim melakukan dialog ini dalam kondisi mabok, sampai secara tak sengaja ia melakukan sesuatu yang membuatnya tersetrum listrik.

Lagi-lagi Madrim mengalami koma. Setelah siuman, ia bukannya kehilangan kemampuan, tapi kemampuannya justru bertambah. Ia bukan saja bisa melihat gambaran seseorang saat ini, tapi juga gambaran di masa mendatang!

Tantra gembira sekali Madrim memiliki kemampuan baru ini, dan memanfaatkannya habis-habisan untuk bermain saham. Hanya dengan melihat foto seorang penyiar televisi (yang menyiarkan berita perkembangan saham), Madrim bisa melihat apa yang terucap si penyiar sekian hari mendatang. Walhasil, kenaikan atau pun penurunan harga saham bisa diprediksi secara sangat tepat.

Dalam tempo singkat kekayaan Madrim meningkat. Tapi ia tak kunjung bahagia karena ia justru tak mampu melacak keberadaan istrinya sendiri. Ia pun memohon pada Tuhan agar dipertemukan dengan istrinya.

Tantra yang melihat Madrim lesu dan kesepian, berinisiatif memanggilkan seorang pelacur kelas atas ke apartemen Madrim. Pelacur ini pun datang dan ternyata dia adalah Leha, istri Madrim! Leha merasa sangat terpukul dan melarikan diri. Madrim mengejarnya sampai lantai tertinggi apartemen. Madrim merayunya agar Leha mau hidup bersama lagi seperti dulu, tapi Leha memilih jalan lain.

Madrim merasa sangat terpukul dan memutuskan “membuang” semua kekayaannya (menyerahkannya ke Kadir untuk dikelola) dan memilih jadi orang biasa. Tapi muncul kemudian gambaran dirinya di masa depan : Madrim yang sudah miskin masih juga ditodong dan ditusuk penjahat karena tak bisa menyerahkan apa-apa. Madrim panik dan memutuskan untuk pergi ke padang ilalang tempat ia pertama kali mendapat kekuatan.

Di padang ilalang ini ia berteriak memanggil-manggil petir agar datang dan menyambarnya, dan berharap agar dengan tersambar petir kekuatannya akan hilang dan ia bisa kembali menjadi manusia biasa. Tapi sang geledek tak kunjung datang.

Berhari-hari Madrim bergolek di padang ilalang. Sampai nyaris mati lemas.

Kepala Desa lagi-lagi menemukan Madrim dan menolongnya. Kadir (yang datang ke desa ini karena sudah bisa menduga tujuan kepergian Madrim) mengatakan ia dan orang-orang desa berdoa untuk keselamatannya. Madrim merasa iri pada orang-orang yang masih bisa berdoa, karena dirinya sudah takut berdoa. Kadir menyarankan agar Madrim bersikap tawakal.

Apakah Madrim akan mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya ?..

Source




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar